Aku tidak tahu kapan tepatnya…
Malam itu,
kuniatkan untuk belajar, lebih tepatnya memuroja’ah
hafalanku, mengingat esok lusa akan diadakan uji hafalan Qur’an. Mencoba tidak
memperdulikan mereka berlima yang entah, kali ini meributan hal apa lagi. Yang
pasti tetap tidak penting seperti biasanya. Toh, sebentar lagi akan ada
kebijakan baru dalam asrama. Jadi aku tidak perlu memikirkan banyak hal lagi
tentang mereka.
Aku masih
baringan di tempat tidur. Dan cukup tega untuk menunjukkan ketidaksukaanku
dengan ocehan sok aktual mereka. Tapi tidak cukup tahan untuk terus-terusan
berada radius 20 sentimeter dari mereka. Yah, jadilah seperti biasa, sebentar
lagi aku benar-benar tidak akan kuat untuk tetap berdiam diri di wilayahku.
Sedikit
kasar, aku menjejak tangga tempat tidur lalu melengos keluar kamar, tidak lupa
dengan sengaja menendang pintu kamar.
Aku sudah
terbiasa berada di luar sini, di teras asrama. Memandangi pohon jambu yang
walaupun mengerikan, akan membuat perasaan rindu setengah hidup akan manis
buahnya bila pohon itu tidak tumbuh di pekarangan kami. Memandangi langit yang…
YaTuhan, seolah dia sedang menggurat perasaanku saat ini, lihat saja! Langit malam
ini tidak berbintang, sempurna hitam polos tanpa cahaya, bahkan bulan pun tidak
nampak saking pekatnya awan yang menyelimutinya.
Lagi-lagi
aku terusir dari kamarku sendiri.















