I remember…The way you glanced at me, yes I remembertatapan teduh itu? jelas aku inget. dan nggak pernah lupa bagaimana caramu natep. I remember…When we caught a shooting star, yes I rememberbintang-bintang itu... lebih ke mimpi-mimpi kita yang begitu hebatnya. yang kita rangkai satu sama lain. I remember.. All the things that we shared, and the promise we made, just you and Iyap, bahkan aku udah nggak bisa itung berapa banyyak janji.. atau lebih tepatnya, janji yang diharapkan I remember.. All the laughter we shared, all the wishes we made, upon the roof at dawnbahkan aku selalu ketawa walaupun aku diem, percayalah. Do you remember..?When we were dancing in the rain in that decemberatau kita artikan saja... tangisan itu? di bulan desember ini... And I remember..When my father thought you were a burglarahaha, aku harap nggak ada kejadian kayak gini I remember.. All the things that we shared, and the promise we made, just you and II remember.. All the laughter we shared, all the wishes we made, upon the roof at dawn I remember.. The way you read your books,Yes I rememberseingetku... kamu yang selalu mbaca bukuku, dan, terimakasih atas itu The way you tied your shoes,Yes I remembertapi aku nggak akan lupa juga sama flip-flopmu yang udah aus, haha The cake you loved the most,Yes I remembersekali-kali kamu harus ngebiarin aku mbayarin macam-macam yang kita makan The way you drank you coffee,I rememberdingin, enak, di mc'd, dan harganya 10.000 kan? The way you glanced at me, yes I remembertatapan teduh itu? jelas aku inget. dan nggak pernah lupa bagaimana caramu natep. When we caught a shooting star,Yes I rememberbintang-bintang itu... lebih ke mimpi-mimpi kita yang begitu hebatnya. yang kita rangkai satu sama lain When we were dancing in the rain in that decembertatapan berkaca-kaca... tangisan itu... juga karna mungkin lama lagi baru bisa main baren lagi And the way you smile at me,Yes I rememberdan senyuman terakhir, sampai kita akan ketemu lagi... entah kapan. tapi aku akan inget senyum itu.selalu
Malam itu,
kuniatkan untuk belajar, lebih tepatnya memuroja’ah
hafalanku, mengingat esok lusa akan diadakan uji hafalan Qur’an. Mencoba tidak
memperdulikan mereka berlima yang entah, kali ini meributan hal apa lagi. Yang
pasti tetap tidak penting seperti biasanya. Toh, sebentar lagi akan ada
kebijakan baru dalam asrama. Jadi aku tidak perlu memikirkan banyak hal lagi
tentang mereka.
Aku masih
baringan di tempat tidur. Dan cukup tega untuk menunjukkan ketidaksukaanku
dengan ocehan sok aktual mereka. Tapi tidak cukup tahan untuk terus-terusan
berada radius 20 sentimeter dari mereka. Yah, jadilah seperti biasa, sebentar
lagi aku benar-benar tidak akan kuat untuk tetap berdiam diri di wilayahku.
Sedikit
kasar, aku menjejak tangga tempat tidur lalu melengos keluar kamar, tidak lupa
dengan sengaja menendang pintu kamar.
Aku sudah
terbiasa berada di luar sini, di teras asrama. Memandangi pohon jambu yang
walaupun mengerikan, akan membuat perasaan rindu setengah hidup akan manis
buahnya bila pohon itu tidak tumbuh di pekarangan kami. Memandangi langit yang…
YaTuhan, seolah dia sedang menggurat perasaanku saat ini, lihat saja! Langit malam
ini tidak berbintang, sempurna hitam polos tanpa cahaya, bahkan bulan pun tidak
nampak saking pekatnya awan yang menyelimutinya.
Name: Nur Darwisya Binti Mahmud Call me:Schaa for short Age: 7teen and always 7teen From: Kuala Lumpur Malaysia Boleh Stay: Selangor Darul Ehsan Study aT: Semesco
I remember…The way you glanced at me, yes I remembertatapan teduh itu? jelas aku inget. dan nggak pernah lupa bagaimana caramu natep. I remember…When we caught a shooting star, yes I rememberbintang-bintang itu... lebih ke mimpi-mimpi kita yang begitu hebatnya. yang kita rangkai satu sama lain. I remember.. All the things that we shared, and the promise we made, just you and Iyap, bahkan aku udah nggak bisa itung berapa banyyak janji.. atau lebih tepatnya, janji yang diharapkan I remember.. All the laughter we shared, all the wishes we made, upon the roof at dawnbahkan aku selalu ketawa walaupun aku diem, percayalah. Do you remember..?When we were dancing in the rain in that decemberatau kita artikan saja... tangisan itu? di bulan desember ini... And I remember..When my father thought you were a burglarahaha, aku harap nggak ada kejadian kayak gini I remember.. All the things that we shared, and the promise we made, just you and II remember.. All the laughter we shared, all the wishes we made, upon the roof at dawn I remember.. The way you read your books,Yes I rememberseingetku... kamu yang selalu mbaca bukuku, dan, terimakasih atas itu The way you tied your shoes,Yes I remembertapi aku nggak akan lupa juga sama flip-flopmu yang udah aus, haha The cake you loved the most,Yes I remembersekali-kali kamu harus ngebiarin aku mbayarin macam-macam yang kita makan The way you drank you coffee,I rememberdingin, enak, di mc'd, dan harganya 10.000 kan? The way you glanced at me, yes I remembertatapan teduh itu? jelas aku inget. dan nggak pernah lupa bagaimana caramu natep. When we caught a shooting star,Yes I rememberbintang-bintang itu... lebih ke mimpi-mimpi kita yang begitu hebatnya. yang kita rangkai satu sama lain When we were dancing in the rain in that decembertatapan berkaca-kaca... tangisan itu... juga karna mungkin lama lagi baru bisa main baren lagi And the way you smile at me,Yes I rememberdan senyuman terakhir, sampai kita akan ketemu lagi... entah kapan. tapi aku akan inget senyum itu.selalu
Malam itu,
kuniatkan untuk belajar, lebih tepatnya memuroja’ah
hafalanku, mengingat esok lusa akan diadakan uji hafalan Qur’an. Mencoba tidak
memperdulikan mereka berlima yang entah, kali ini meributan hal apa lagi. Yang
pasti tetap tidak penting seperti biasanya. Toh, sebentar lagi akan ada
kebijakan baru dalam asrama. Jadi aku tidak perlu memikirkan banyak hal lagi
tentang mereka.
Aku masih
baringan di tempat tidur. Dan cukup tega untuk menunjukkan ketidaksukaanku
dengan ocehan sok aktual mereka. Tapi tidak cukup tahan untuk terus-terusan
berada radius 20 sentimeter dari mereka. Yah, jadilah seperti biasa, sebentar
lagi aku benar-benar tidak akan kuat untuk tetap berdiam diri di wilayahku.
Sedikit
kasar, aku menjejak tangga tempat tidur lalu melengos keluar kamar, tidak lupa
dengan sengaja menendang pintu kamar.
Aku sudah
terbiasa berada di luar sini, di teras asrama. Memandangi pohon jambu yang
walaupun mengerikan, akan membuat perasaan rindu setengah hidup akan manis
buahnya bila pohon itu tidak tumbuh di pekarangan kami. Memandangi langit yang…
YaTuhan, seolah dia sedang menggurat perasaanku saat ini, lihat saja! Langit malam
ini tidak berbintang, sempurna hitam polos tanpa cahaya, bahkan bulan pun tidak
nampak saking pekatnya awan yang menyelimutinya.