Hello i Domo kun, hby??

Schaa AL Hassan

Just Let She's Crying



Keluar-lah!” kataku hampir terisak.

---------------------------------------------------------

Aku berjalan keluar mobil, tanpa menoleh ke belakang.

Tuhan, bagaimana aku harus mengatakannya?

Aku menghembus nafas hati-hati, benar-benar perlahan, takut airmataku akan jatuh dan dia mengetahuinya. Hatiku semakin sesak. Tenggorokanku tercekat.

Aku duduk bersandar di sebuah pohon yang lumayan besar, setidaknya cukup untuk aku dan dia berteduh dari gerimis yang mulai menjadi hujan.

Dia ikut duduk di sebelahku, sedikit mengibas-ngibaskan bajunya yang terkena gerimis, tapi bukan itu yang aku peduli.

Aku menatap langit. Tidak ada bintang. Terang saja, mendung dari tadi sore membuat bintang-bintang kesukaannya enggan untuk menampakkan diri. Langit mendung. Langit. Padahal aku selalu suka langit. Mungkin, langit adalah hadiah terindah yang pernah Tuhan berikan padaku.

Aku mengusap wajahku pelan, wajahku kebas. Aku takut dia melihat air mataku. Aku benci perasaan ini, bukankah hanya makhluk lemah saja yang menangis…?

Tapi dia tersenyum memaklumi, tidak apa-apa, katanya tanpa membuka mulut.

Airmataku malah tumpah sejadi-jadinya, bendunganku pecah oleh senyumnya.
Dia mendekat ke arahku, kemudian mendekapku tanpa aku bisa menolak seperti sebelum-sebelumnya. Memelukku, aku pasrah, airmataku benar-benar tumpah, bersamaan dengan hujan yang semakin deras.

Tangisku semakin kencang, kenapa Tuhan? Kenapa aku harus terlihat lemah dihadapannya?

Dia malah mendekapku semakin erat. Dan mengelus pundakku perlahan. Mencoba menenangkanku sambil berkali-kali berbisik lirih, “tidak apa-apa..

Dia membiarkan aku menangis.

Label: ,


|