waktu ultahnya kembar
liat tanganku cobak!
liat kan, masih ada warna putih disitu *maksudku bukan kulit lho -__-
aku yang pake krudung item, sampingnya krudung biru -- liat tanganku! bukan liat aku!
liat kan..
masih, masih ada gelang putih-merah disitu, gelang couple-ku, yang sekarang entah raib dimana
waktu foto itu, kita niruin gayanya mas gobati, dan dengan bangganya aku niruin gaya itu, dengan bangganya aku kepalin tanggannya, dengan bangganya makek gelang itu..
masih, waktu itu masih ada gelang putih-merah disitu, gelang couple-ku, dan mungkin satu-satunya gelang yang aku nggak risih makeknya
waktu itu aku gapernah punya feeling itu gelang bakal raib entah kemana. aku suka makeknya. aku seneng makeknya. aku beneran gak risih makeknya.
masih, waktu itu masih ada gelang putih-merah disitu.. sekarang aku gatau gimana kabar gelang itu, tapi aku cuma mau pesen..
buat siapa aja yang nemuin gelang itu... please call me maybe! eh nggak ding. cuma, tolong jangan disia-sia gelangnya.
itu gelang berharga.
dan, buat pemilik gelang yang sama.... hueeeee, maaaaaaaap aku ngilangin T^T
WANTED!
bracelet, color : white and red
lost on : about 2 months ago
possibility lost in : i cant remind :(
if you find it, please... just "take care" of that's thing
“Keluar-lah!” kataku hampir terisak.
---------------------------------------------------------
Aku berjalan keluar mobil,
tanpa menoleh ke belakang.
Tuhan, bagaimana aku harus mengatakannya?
Aku menghembus nafas hati-hati,
benar-benar perlahan, takut airmataku akan jatuh dan dia mengetahuinya. Hatiku
semakin sesak. Tenggorokanku tercekat.
Aku duduk bersandar di
sebuah pohon yang lumayan besar, setidaknya cukup untuk aku dan dia berteduh
dari gerimis yang mulai menjadi hujan.
Dia ikut duduk di sebelahku,
sedikit mengibas-ngibaskan bajunya yang terkena gerimis, tapi bukan itu yang
aku peduli.
Aku menatap langit. Tidak
ada bintang. Terang saja, mendung dari tadi sore membuat bintang-bintang
kesukaannya enggan untuk menampakkan diri. Langit mendung. Langit. Padahal aku
selalu suka langit. Mungkin, langit adalah hadiah terindah yang pernah Tuhan
berikan padaku.
Aku mengusap wajahku pelan,
wajahku kebas. Aku takut dia melihat air mataku. Aku benci perasaan ini, bukankah hanya makhluk lemah saja yang
menangis…?
Tapi dia tersenyum
memaklumi, tidak apa-apa, katanya
tanpa membuka mulut.
Airmataku malah tumpah
sejadi-jadinya, bendunganku pecah oleh senyumnya.
Dia mendekat ke arahku, kemudian
mendekapku tanpa aku bisa menolak seperti sebelum-sebelumnya. Memelukku, aku
pasrah, airmataku benar-benar tumpah, bersamaan dengan hujan yang semakin
deras.
Tangisku semakin kencang, kenapa Tuhan? Kenapa aku harus terlihat
lemah dihadapannya?
Dia malah mendekapku semakin
erat. Dan mengelus pundakku perlahan. Mencoba menenangkanku sambil berkali-kali
berbisik lirih, “tidak apa-apa..”
Dia membiarkan aku menangis.
Langitnya hebat banget deh, bisa mbaca perasaanku.. Baik
banget pula, mau nggantiin aku nge-ekpresiin apa yang lagi aku rasain. HUJAN
jal..! Haha, aku selalu suka bau tanah basah, ngingetin aku tentang teriakan
dari atas pohon-waktu itu. Aku selalu suka bau tanah basah, selalu
suka……
……tapi aku nggak pernah suka perasaan “hujan” yang
menyertainya~
Label: QD
















